ARM HA IPB
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Program
  • Publikasi & Rilis
  • Hubungi Kami
Berita

Mimpi Kita Menua Bersama

by administratorarmhaipb December 3, 2020
written by administratorarmhaipb

MIMPI KITA MENUA BERSAMA

(Ahmad Husein, Ketua 1, ARM HA-IPB)

Sekitar Agustus. 1989. Saya baru pindah dari kos-kosan ‘elite’ di Jalan Riau Bogor ke rumah kontrakan besar di Babakan Raya atau Bara 3,5 (begitu kami menyebutnya mengingat letaknya tepat antara gang Bara 3 dan 4). Saya agak shock, karena bangunan dengan 8 kamar (satu kamar diisi 2 mahasiswa) ini rasanya agak kumuh dan menyeramkan. Saya sebut menyeramkan, karena depan rumah adalah kebun singkong, sementara sisi kanan dan belakangnya adalah jajaran makam dengan tanaman bambu rimbun. Bagaimana tidak bikin merinding, coba?

Di situ pertama kali saya bertemu Mas Bowo, angkatan 24, setahun di atas saya. Meski terdapat satu senior angkatan 23 sebagai penghuni rumah, saya melihat tampuk kepemimpinan aktivitas sehari-hari ada di tangan pria asal Wonosobo, Jawa Tengah ini. Waktu itu saya memandangnya sebagai aktivis yang lincah ke sana ke mari. Tiada hari tanpa rapat, soal perlawanan opspek di Perikanan, soal pembentukan pengajian buat para mahasiswa/mahasiswi di kos-kosan sekitar, tentang jadwal mengaji anggota rumah, dan sebagainya.

Menulis, Mentor, dan Konyol Bersama

Tak butuh waktu lama untuk akrab dengan dia. Saya yang pada dasarnya juga suka aktivitas kemahasiswaan dan keislaman, langsung klik dengan beliau. Dan satu hal lagi yang menyatukan kami: menulis. Mas Bowo piawai sangat dalam bermain kata dan alinea. Gaya tulisannya renyah. Saya suka meledeknya dengan celetukan: “Centil!”. Dia tertawa mesem saja. Sementara tulisan saya sejak awal banyak bermain di narasi dan dan ketajaman deskripsi, sesuatu yang terus terbawa hingga bekerja di media nasional beberapa tahun kemudian.  Yang tak saya sadari –mungkin sebagai wujud kekaguman—lama kelamaan tulisan saya mengikuti gayanya. Tak pelak, ia balik meledek saya: “Centil!” Lalu kami terbahak berdua.

Saya ingat, kami memborong kertas karton berlembar-lembar untuk membuat poster ajakan ke mahasiswa mengikuti seminar keislaman di kampus, atau menyambut hari-hari besar Islam (waktu itu belum ada penggunaan desain grafis dan cetak teknologi tinggi ala sekarang). Boleh dibilang, kami menuangkan kreativitas menulis via poster itu dengan cara konyol.

Bahkan, dalam suatu kesempatan, saya dan Mas Bowo menyelesaikan satu poster Majelis Taklim Al Marjan, Faperikan (sekarang FPIK) yang sudah dicorat-coret warna-warni. Dilengkapi sebaris jargon hasil kesepakatan kami berdua: “PAKULTAS PERIKANAN, PAKULTAS PAPORIT” – merujuk lidah saudara-saudari dari Tanah Sunda yang sulit membedakan huruf ‘ep’ dan ‘pe’. Tiap kali melihat sembunyi-sembunyi bagaimana mahasiswa membaca poster itu sembari ngakak, saya dan dia entah kenapa bangga sendiri.

Kami juga membuat majalah dakwah stensilan lewat KOSMIS (Kelompok Studi Masalah Keislaman). Edwin Aldrianto BDP25 menjadi ketuanya. Saya juru tulis. Mas Bowo contributor utama. Majalah ini terbit sesempatnya, dengan layout seadanya. Bahkan cukup dengan mencetak artikelnya dalam format MS Word, digunting-gunting, lalu ditempel-tempel sesuai bentuk yang diinginkan. Meskipun terkesan ‘tak bermodal’ dan sesukanya, majalah stensilan ini cukup laris di kalangan mahasiswa. Banyak yang penasaran, khususnya (lagi-lagi) kaum hawa, siapa para penulis di belakang artikel-artikel jenaka tersebut.

Dari dia pulalah saya berkenalan dengan dunia ‘bawah tanah’ pergerakan mahasiswa dan ideologi. Pelan tapi pasti, Mas Bowo menjelaskan peta situasi dakwah di Darmaga dan Bogor. Bahkan snapshot politik nasional. Empat tahun di Darmaga, saya belajar mengunyah apa itu dialektika material pembentuk ideologi Komunisme, membaca berlembar-lembar teori “Invisible Hand” ide Adam Smith ketika bicara soal pasar bebas kapitalisme. Tak lupa, konsep pemikiran Islam, yang menjadi hal baru buat saya, tetapi di saat serupa menjadi titik tolak pendewasaan cara berpikir seorang anak muda yang masih mencari jati diri. Mas Nurbowo menjadi mentor utama saya sehari-hari. Kerap berita-berita rahasia terbaru mengenai situasi politik saya terima darinya.

Karena ia juga seperti jangkar bagi kegiatan keislaman yang kita gagas, maka Mas Bowo juga kerap harus berkoordinasi dengan saudari-saudari mahasiswi di lingkungan Darmaga untuk merancang aksi. Kalau saya hitung-hitung, maka sayalah yang paling dipercaya untuk diajaknya sowan ke rumah beberapa akhwat, entah itu minta tanda tangan, menyerahkan poster, undangan, dan lain-lain. Satu dari mereka adalah Mbak Nurbaiti, yang kelak menjadi pendamping beliau. Cuma, ya itu, beliau bicara di teras berdua, saya tiba-tiba sadar, serasa menjadi patung pak polisi yang tak bisa bicara apa-apa. Oh, Mas, kamu cerdik sekali!

Sampai ketika saya lulus, kami terus bersama. Juga saat memutuskan bergabung di Jurnal Halal, LPPOM-MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia), di bawah bimbingan Profesor Aisjah Girindra sebagai direktur LPPOM waktu itu. Kisahnya unik, karena saat Prof. Aisjah menanyakan apakah kami  bisa melayout contoh (dummy) bakal majalah ini, saya orang yang langsung mengangguk dan meyakinkan beliau. “Baik, Bu. Saya bisa melayoutkan dummy-nya.”  Saat pamitan dari rumah beliau, Mas Iqbal Setyarso (saat itu wartawan Majalah Kartini, pembuka akses pertama kali ke Prof Aisjah) menyikut saya dan bertanya separo cemas.

“Beneran kamu bisa melayout dummy-nya?”

“Nggak, Mas. Saya malah nggak ngerti gimana nge-layout majalah…”

Kami tertawa bersama. Saya buru-buru mampir ke toko buku setelahnya, membeli buku panduan desain dengan program AmiPro, dan belajar kilat penuh cemas dua minggu lamanya, sebelum berhasil menyerahkan contoh disain majalah yang diminta. Draft itu dibawa Prof. Aisjah ke (alm.) KH Hasan Basri, Ketua MUI. Hasil tinjauannya disampaikan Prof. Aisjah langsung ke tim calon pengelola majalah (Mas Nurbowo sebagai Pemred, Mas Iqbal, saya, Wahid, dan Nuim Hidayat).

“Pak Kiai suka disainnya. Kita jadi bikin majalah,” kata Bu Aisjah. Semua mengucap hamdallah.

Saya juga. Campur lemas. Lalu dalam hati berjanji, lain kali takkan berani-beranian mengerjakan sesuatu yang saya sebenarnya tidak tahu.

Saat saya menikah tahun 1995 di Jawa Timur, tiba-tiba saja Mas Nurbowo dan teman-teman Jurnal Halal muncul tepat di pagi hari sebelum acara, dan turut menyaksikan akad nikah tersebut. Mereka jauh-jauh datang untuk melengkapi hari bahagia saya. Lalu dalam sekejap, mereka menghilang, balik lagi ke Bogor, usai acara digelar.

**

Bencana, Jurnalistik, dan Dakwah

Desember 2004. Saya berada di kawasan Lhok Nga, Aceh Besar, seminggu pasca tsunami menghantam daratan Aceh. Selain bertugas sebagai relawan KSBA (Komite Solidaritas Bencana Aceh dan Nias), saya juga punya misi pribadi: mencari keponakan yang hilang saat peristiwa 26 Desember 2004 tersebut.

Telepon masuk. Dari Mas Nurbowo. Ia bergabung dengan tim penyelamat Dompet Dhuafa (DD) dan sedang bertugas di kawasan pantai Ulhee Lheu, satu dari sekian daerah terparah. “Banyak mayat di sini, kita masih bingung mau diapain,” ujarnya dengan suara tercekat. Tak lupa, ia menawarkan bantuan untuk menyebarkan poster Agi, ponakan saya yang hilang itu. Kami saling mendoakan dan menguatkan, lalu balik bekerja. Saya lebih dahulu meninggalkan Banda Aceh setelah lebih dari seminggu berjibaku di sana.

Takdir Allah SWT rupanya menyandingkan saya dengan mas Nurbowo untuk selalu dekat. Dia rupanya paham, saya punya gairah dalam soal peningkatan kapasitas bidang jurnalistik dan komunikasi. Walhasil, entah itu soal promosi produk halal, training jurnalistik, workshop pemasaran sosial, hingga manajemen kebencanaan, ia akan meminta saya mengisi acara buat lembaganya. Dan selalu saya penuhi.

Sekali waktu, saya diundang ke rumahnya di Pondok Miri, Rawa Kalong, Gunung Sindur. Mas Nurbowo minta saya mentraining para pengajar al Quran dan TKA tentang cara berkomunikasi yang baik, sesuai kaidah seorang komunikator yang baik. Saya pun mengiyakan saja. Dari pagi sampai sore, saya menghabiskan waktu di sana, sembari makan siang bareng yang amat nikmat meski dengan menu sederhana.

Hobinya melanglang buana ke daerah-daerah terpencil menyambangi para da’i yang bertugas di sana, amat membuat kita iri. Suatu ketika, ia telepon saya:

“Punya hape bekas? Sini kasi ke saya.”

“Lho ngapain hape bekas, sini saya beliin yang baru. Ojo ngisin-ngisinin,” balas saya.

“Bukan untuk saya, untuk da’i di Mentawai. Kasian nggak punya hape,’ katanya.

Ya Allah, dia lebih memikirkan da’i daripada dirinya sendiri.

Kami pun terus bergiat dan tukar-menukar informasi meski dalam lembaga berbeda di setiap kejadian krisis, entah itu gempa Sumbar, letusan Merapi, gempa Lombok, gempa dan tsunami Palu, dan banyak lagi event lainnya.

Dialah yang amat khawatir saat saya terkena musibah di Lombok. Saat saya bertugas, terjadi rangkaian gempa keempat dan kelima, 19 Agustus 2018. Yang keempat memiliki magnitudo 6,3 terjadi pada pukul 11.10 WIB dengan kedalaman hiposenter 7,9 km. Saya yang tengah di kantor PMI Provinsi NTB, ikut menghambur keluar gedung. Lalu malamnya, gempa dengan magnitudo 7,0 terjadi pada pukul 21.56 WIB dengan kedalaman hiposenter 25 km.

Saya tengah di dalam kamar penginapan, usai kembali dari kantor. Lampu mati akibat goncangan, lalu kami satu penginapan berlari ke luar dalam kondisi gelap gulita. Mengandalkan isting, saya berlari ke arah depan lalu berbelok ke kanan, bermaksud melintasi café, karena lebih aman. Tak dinyana, tangan kiri saya yang meraba dinding dalam gelap, tersabet sebuah benda tajam. Darah bercucuran deras, dan teman-teman melarikan saya ke RS Darurat Kota Mataram. Ada 6 jahitan yang saya terima utk luka sobek menganga di kelingking kiri. Esok paginya, saya diperintahkan kembali ke Jakarta, agar dapat melakukan perawatan lebih saksama. Mas Nurbowo saya kabari soal ini. Dialah yang memposting kabar saya di media sosial tak lama kemudian.

Saya sempat membayangkan, bagaimana kami berdua menua bersama, lalu suatu saat di masa tua itu berbincang hangat mengenai semua tugas dan pekerjaan yang sudah kita lakukan. Alangkah menyenangkannya. Apalagi kemudian membuat buku berdua.

Itu impian yang sempat melintas dalam kepala saya.

Suatu saat lain, pesan WA masuk. Mas Nurbowo mengajak ketemu. Ada apa, tanya saya?

“Yuk bikin inisiatif bantu keluarga temen-temen yang sudah tiada dan butuh dukungan ekonomi.”

Saya tak mungkin tak ikut. Semangat berbuat baiknya amat konsisten. Inisiatif itu Alhamdulillah berlanjut hingga kini.

**

ARM, Jantung, Pulang

Tahun 2019, kami berdua ditantang untuk mendirikan dan mengembangkan sebuah organisasi berbasis relawan di bawah Himpunan Alumni IPB. Saya dan dia punya prinsip sama, selama ini tak mau cawe-cawe urusan alumni. Kami berdua jauh dari hiruk-pikuk dan dinamika himpunan alumni. Namun, ide organisasi berbasis relawan ini cukup brilian. Setidaknya itu yang saya sampaikan ke Mas Nurbowo.

Beliau setuju. Lalu meminta saya yang memimpin. Saya tolak. Alasannya, saya masih lekat dikenal sebagai seorang manajer dari organisasi internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yang amat ketat soal netralitas dan kemandirian. “Nanti akan ada semacam vested interested kalau saya yang mimpin. Nanti jika saya sudah tidak lagi di sana, maka saya akan bisa bantu lebih lapang,” ujar saya. Selain itu, lembaga baru ini butuh role model yang sudah teruji pengalamannya di bidang kebencanaan dan kemanusiaan. Karena pengalaman saya di bidang manajemen organisasi kebencanaan, saya janjikan bahwa semua hal terkait konsep, SOP, kode etik, hingga manajemen sumber daya, bisa dibebankan ke pundak saya.

Deal. Lembaga tersebut yang kemudian diberi nama Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) terbentuk. Belum lagi resmi didirikan, Mas Nurbowo dan saya harus bertugas pertama kali ke wilayah kebakaran hutan dan asap di Riau. Misi pertama kami sukses. Itu tak lepas dari jaringan kawan-kawan NGO lokal yang beliau kontak untuk membantu ARM. Mas Nurbowo lalu terbang ke Ambon membawa amanah bantuan untuk korban gempa.

Sakit jantungnya tak melemahkan semangat. Sahabat-sahabatnya rajin mengingatkan bahkan mengirim berbagai obat untuknya. Kepada hampir setiap orang, ia selalu menjawab seolah tak serius. “Kalau udah ajal sih, ya mati…” Namun kepada saya, bila bicara tentang kesehatan, Mas Nurbowo tidak pernah mengucapkan jawaban tersebut. Hanya kata iya, baiklah, dan sejenisnya yang akan jadi responnya ke saya.

Dan demikianlah. Walaupun dengan situasi pandemi, kami tetap bergiat. Saat ia safari dakwah, dua hari sebelum Allah memanggilnya, ia sempat berkirim WA kepada saya dan Emy soal perlunya bertemu dengan seluruh tim ARM akhir tahun. Saya bilang bahwa ia perlu memberi wejangan untuk langkah kita 2021.

“Siiaap, cuma kalo Zooming itu, selain gaptek, juga nggak mantep ya?” komentarnya.

Saya timpali, apakah mau off-line? Dia menjawab sejurus kemudian: “Outdoor dan kudu tertib Prokes.”

Hingga tiba-tiba kabar itu datang. Ia berpulang dalam perjalanan menuju Padang, di kawasan Pesisir Selatan, setelah dibawa ke Puskesmas Inderapura, Kecamatan Pancung Soal, hari Rabu 2 Desember 2020 dinihari, pukul 01.10 WIB.

Saya membaca pesan kepergiannya tepat ketika melangkah keluar pagar rumah menuju mesjid untuk solat Subuh. Tangan saya serasa membeku dan reflek beristighfar. Kemudian air mata mengalir tak tertahan. Selebihnya, saya hanya termenung membaca ratusan pesan dan postingan masuk menyatakan bela sungkawa, berikut pengalaman baik mengenai betapa baiknya hidup Mas Nurbowo. Serta berapa banyak orang cemburu ia menemui Rabb-nya dengan cara yang ia pilih sendiri: dalam pekerjaan yang ia cintai.

Saya diam seharian itu. Tak kuasa menulis. Saya paksakan menyusun dengan susah payah rilis resmi statemen ARM mengenai berpulangnya beliau. Hingga sore hari; saya dan puluhan rekan sudah hadir di kediamannya, menanti ia pulang.

Dan malam itu, Mas Nurbowo akhirnya pulang. Yang menangis bukan hanya keluarga. Rekan-rekan da’i, kawan-kawan jurnalis, rekan-rekan dunia kemanusiaan, semua terisak.

Malam kemarin, saya menyaksikan bukti betapa ada sosok yang sederhana, yang dicintai banyak orang.

Lalu saya teringat impian saya bersama Mas Nurbowo. Kami ditakdirkan terus bersama selama 31 tahun. Dalam Islam, dalam respon bencana dan kemanusiaan, dalam gairah jurnalistik.

Namun Allah tak menakdirkan kami menua bersama.

Mas, kamu menang. Kamu menghadap-Nya lebih dahulu. Sementara jasa dan kebaikanmu menjuntai panjang tak putus-putus mengikuti ruh-mu. Dari alam dunia ini hingga akhirat kelak.

Betapa kami kehilangan. Sangat.

Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’afihi wa’fu ‘anhu.

(Bogor, 3 Desember 2020)

#MengenangKetumARM

December 3, 2020 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Berita

IN MEMORIAM KETUA ARM HA-IPB, NURBOWO: ARM KEHILANGAN SOSOK PEMIMPIN YANG BERDEDIKASI

by administratorarmhaipb December 3, 2020
written by administratorarmhaipb

BOGOR, RABU 02 DESEMBER 2020 — Keluarga besar Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) berduka cita yang amat dalam atas berpulangnya Ketua Umum ARM, Bapak Nurbowo, pada Rabu dini hari, 2 Desember 2020, di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Almarhum meninggal dunia saat melakukan perjalanan tugas kemanusiaan dan dakwah.

Nurbowo lahir di Wonosobo, Jawa Tengah pada tanggal 29 Februari 1968. Beliau menyelesaikan SMA-nya di Wonosobo sebelum masuk IPB tahun 1987 lewat Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) dan memilih belajar di Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan.

Sejak di kampus, almarhum sudah aktif dalam kegiatan kampus, khususnya di organisasi keislaman mahasiswa. Mumpuni dalam bidang jurnalistik serta sangat peduli dengan isu-isu dakwah dan kemanusiaan. Karirnya pun tak jauh dari bidang tersebut, mulai dari pemimpin redaksi Jurnal Halal LPPOM MUI, Dompet Dhuafa (DD), PT Khairul Bayan (penerbit majalah Alia dan Insani Islamic Digest), LAZ Dewan Dakwah, hingga terakhir membantu dalam kepengurusan Dewan Dakwah Islamiyah yang baru di bawah pimpinan Ustadz Dr. Adian Husaini.

Kiprahnya dalam kegiatan kemanusiaan amat mengagumkan. Almarhum terjun di hampir setiap operasi penanggulangan bencana di Indonesia. Pada tahun 2019, almarhum menjadi ketua umum yang pertama organisasi Aksi Relawan Mandiri (ARM), sebuah badan otonom kemanusiaan Himpunan Alumni IPB. Di sini, almarhum sempat bertugas dalam misi bantuan kemanusiaan, antara lain untuk korban kebakaran hutan di Riau, gempa Ambon, hingga Aceh.

Salah satu kekuatan almarhum adalah tulisan yang renyah, enak dibaca, tapi amat menyentuh pembaca. Belasan buku dengan topik jurnalistik, kemanusiaan, dan dakwah telah almarhum hasilkan. Ia juga seorang penyunting (editor) yang andal.

Di ARM, almarhum amat berdedikasi dalam tugasnya sebagai ketua umum. Ia selalu mengayomi serta mendahulukan kaderisasi dan peran kaum muda. Di bawah kepemimpinannya, ARM, yang baru menginjak usia satu tahun, sudah mampu melesat ke orbit nasional, diakui banyak lembaga kemanusiaan mitra.

Almarhum meninggalkan seorang istri dan 3 orang anak.

Keluarga besar ARM HA-IPB dengan ini menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Bapak Nurbowo. Semoga Allah SWT mengampuni dan memberikan tempat sebaik-baiknya bagi almarhum dan memberi kekuatan serta ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.

*

Informasi lebih lanjut, sila hubungi:

Agus Rusli
Sekretaris Jenderal ARM HA-IPB
No kontak: +62 812 1084 366

December 3, 2020 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
BBA

Satu Komando dan Kepatuhan Masyarakat, Kunci Redakan Covid-19

by administratorarmhaipb November 14, 2020
written by administratorarmhaipb

    BOGOR, SABTU 14 NOVEMBER 2020 — Pandemi Covid-19 sudah berlangsung hampir delapan bulan. Hingga kini masih banyak kasus masyarakat yang terpapar virus tersebut. Untuk meredakan penyebaran Covid-19, kunci utamanya adalah satu komando dari pemerintah dan kepatuhan masyarakat. Juru bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Prof. drh. Wiku Adisasmito, M.Sc., Ph.D., menegaskan hal tersebut dalam acara Bincang-Bincang Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (BBA ARM IPB) Volume 2 bertemakan “Adaptasi Kebiasaan Baru di Era Pandemi”, Sabtu (14/11).

    “Untuk menangani kasus Covid-19 komando dari pemerintah harus satu. Jika masing-masing daerah membuat aturan dan kebijakan sendiri, maka akan sulit mengendalikan penyebaran virus yang telah memakan korban ribuan rakyat Indonesia tersebut,” ujar Prof. Wiku. Karena itu, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2020 tentang Satuan Tugas Covid-19. Satgas tersebut yang melakukan koordinasi lintas kementerian/lembaga dan TNI serta Polri. Koordinasi juga dilakukan dengan Satgas Daerah di 34 provinsi, berbagai organisasi, fasilitas layanan kesehatan masyarakat, laboratorium, media, dan swasta.

    “Kami telah membuat satu data sebagai alat navigasi sebagai strategi pemerintah untuk menghadapai pandemi ini,” katanya. Wiku menambahkan, saat ini pemerintah telah membuat peta resiko wilayah penyebaran kondisi Covid-19 dan peta perubahan prilaku masyarakat di setiap daerah. Data terakhir peta resiko ada 27 kabupaten/kota yang mempunyai resiko tinggi dan 370 kabupaten/kota resiko sedang.

    Wiku berharap ke depan makin banyak relawan untuk memasifkan gerakaan kampanye 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan menjauhi kerumunan) dalam adaptasi kebiasaan baru. Dengan gerakan gotong royong dan saling mengingatkan ini, perubahan perilaku masyarakat akan dapat dipercepat. Apalagi diperkirakan sekitar 17 persen atau hampir 10 juta penduduk Indonesia masih tidak percaya adanya Covid-19.

    Profesor Yudi Pawitan, ahli epidemiologi dan Biostatistik di Karolinska Insitutet, Swedia, dalam paparannya menceritakan pengalaman Swedia dalam penanganan Covid-19. Secara kultur, penanganan yang dilakukan amat didukung semua pihak, mengingat kepercayaan publik kepada pemerintah amat tinggi. Penerapan jaga jarak (social distancing) juga tidak mengalami penolakan. Meskipun secara hasil, kasus Covid-19 di Swedia lebih tinggi dari negara-negara tetangganya, akan tetapi secara umum situasinya tidak lebih buruk dari negara-negara Eropa lainnya. Dan yang pasti, semua orang memang menanti-nanti kehadiran vaksin untuk dapat meredakan wabah tersebut.

    Narasumber lainnya, Prof. Juhaeri Muchtar dari University of Carolina, Chapel Hill, Amerika Serikat, membagikan informasi terkini mengenai perkembangan pembuatan vaksin Covid-19. Menurut Juheri, ada empat kategori vaksin Covid-19 yang kini tengah dikembangkan. Pertama, yang berbahan partikel virus yang inaktif seperti yang dibuat Sinovac. Kedua, dari virus hibrid hidup seperti yang dikembangkan Janssen, dan ketiga bahan berbasis mRNA (Moderna, CureVac, Pfizer, dan Sanofi). Adapun keempat adalah penggunaan adenovirus simpanse yang mengantarkan protein spike CoV-2 untuk memicu respon imun (dikembangkan oleh Oxford/AZ).

    Kebijakan satu komando oleh pemerintah dalam penanganan Covid-19 dirasakan Linda Ambadar, alumni IPB yang menetap di Auckland, Selandia Baru. Saat ini, menurut Linda, Selandia Baru relatif cukup aman dari wabah Covid-19, bahkan aktivitas bekerja dan kegiatan keramaian sudah seperti biasa seperti tidak ada lagi pandemi. Saat baru terjadi wabah Covid-19, Pemerintah Selandia Baru langsung melakukan lockdown total. Mereka sangat serius ketika menghadapi ancaman virus ini. Bahkan koordinasi antara penyelenggara negara, baik dari penyelanggara kesehatan, sosial dan karantina dikelola dengan baik. “Penyelenggara pemerintah kompak, tidak berbeda-beda. Komando datang dari pusat, bahkan Perdana Menteri Selandia Baru dengan didampingi pejabat kesehatan selalu melakukan siaran pers langsung untuk menyampaikan kondisi terakhir.

    Alumni IPB diaspora lainnya, Dian Utami Sukamto, menceritakan pengalaman serupa di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) tentang peran pemerintah dalam memberikan komando sebagai salah satu kunci keberhasilan UEA dalam mengatasi Covid-19. Bahkan UEA termasuk negara yang paling banyak melakukan tes Covid-19 yakni 150 persen atau dari 10 juta penduduk, sudah dilakukan 15 juta tes. Kasus positif Covid-19 hanya sekitar 0,9 persen.

    Praktisi psikososial, Yuli Arinta Dewi, menyesalkan masih adanya stigma negatif terhadap masyarakat yang terkena covid-19, terutama pengucilan. Menurutnya, ada beberapa faktor penyebab, antara lain masyarakat ketakutan tertular penyakit tersebut. Apalagi Covid-19 merupakan penyakit baru dan menular, ditambah pemahaman masyarakat yang minim terhadap penyakit ini dan vaksin belum ditemukan. “Stigma ini menjadikan trauma penderita yang lebih dalam. Sudahlah menjadi korban, malah ditambah stigma negatif,” ujarnya.

    Dukungan psikososial bagi mereka yang tengah dan pernah terkena Covid-19 amat penting dilakukan untuk mencegah dampak psikologis lebih parah. Tujuan dukungan psikososial pada masa pandemi adalah untuk menurunkan kecemasan yang irasional di tengah masyarakat serta meningkatkan kemampuan mereka beradaptasi dengan kondisi saat pandemi.

    Stigma negatif seperti itu pernah dirasakan oleh Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Joko Santoso, yang pernah divonis positif Covid-19 cukup lama, mulai April hingga Juni 2020. Bahkan dirinya sempat dinyatakan positif kembali setelah setelah sempat sembuh. “Stigma negatif dari tetangga bukan hanya saya, tapi keluarga saya juga sempat dijauhkan masyarakat. Bahkan mereka tidak mau menerima pemberian apapun dari keluarga saya. Ada juga yang tidak mau melewati depan rumah saya, mereka harus berputar melalui jalan lain,” tuturnya.

    Namun, Joko mengakui, stigma negatif itu terjadi karena masyarakat belum paham terhadap penyakit Covid-19. Apalagi kasus yang menimpa Joko terjadi pada masa awal wabah Covid-19. “Seiring dengan waktu akhirnya masyarakat paham. Bahkan ada yang datang ke rumah meminta maaf,” katanya. Ia membagikan beberapa tips adaptasi kebiasaan baru dengan prinsip iman, imun, dan aman. Joko kini selalu membawa masker, hand sanitizer, minuman lemon madu, dan sajadah saat keluar rumah. Serta berolah raga sedikitnya 10-15 menit setiap hari. ####

    #

    Informasi lebih lanjut silakan hubungi:

    Agus Rusli (Sekjen ARM HA-IPB)
    Telp: +62 812 108 4366

    November 14, 2020 0 comments
    0 FacebookTwitterPinterestEmail
    Hari Peringatan

    ARM HA IPB : APA MAKNA PAHLAWAN BAGIMU?

    by administratorarmhaipb November 10, 2020
    written by administratorarmhaipb

    Hari ini, tepat 10 November, bangsa kita kembali berefleksi tentang kisah juang para pahlawan yang rela mengorbankan diri untuk kepentingan negeri. Bukan hanya mereka yang bercucur keringat dan darah di baju, namun mereka yang memilih tangguh menjadikan Indonesia semakin maju.

    Mereka yang dengan kelembutan nurani, rela membaktikan diri untuk hadir membantu masyarakat yang tertimpa bencana dan musibah. Mereka yang bersusah payah memperjuangkan suatu perubahan, tak akan mundur hingga tercipta kebijakan dengan nilai kerakyatan.

    Mungkin Pahlawan Kemerdekaan kini telah tiada, namun kisahnya tentu melahirkan banyak makna untuk semangat kita bersama.

    Lalu, seperti apa makna pahlawan bagimu?

    Salam,
    ARM HA-IPB
    Bermartabat Menebar Manfaat

    ARMHAIPB

    HariPahlawan

    BermartabatMenebarManfaat

    November 10, 2020 0 comments
    0 FacebookTwitterPinterestEmail
    Hari Peringatan

    Selamatkan lingkungan, Menjaga Perdamaian – ARM HA-IPB

    by administratorarmhaipb November 9, 2020
    written by administratorarmhaipb


    Permasalahan mengenai dampak perang dan konflik terhadap lingkungan menjadi sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Hewan-hewan langka pun tak luput dari eksploitasi. Hingga pada akhir Perang Dunia II lahirlah wacana oleh para pemimpin dunia akan bahaya persenjataan perang bagi lingkungan dan hewan, sehingga perlu dibuat peraturan untuk membatasinya.

    Hari Peringatan Sedunia untuk Penyelamatan Lingkungan dalam Perang dan Konflik Bersenjata (International Day for Preventing the Exploitation of the Environment in War and Armed Conflict), diperingati setiap tanggal 6 November dan telah ditetapkan oleh PBB.

    PBB menekankan pentingnya memastikan bahwa tindakan terhadap lingkungan adalah bagian dari strategi pencegahan konflik, pemeliharaan perdamaian, dan pembangunan perdamaian. Tidak akan ada perdamaian yang tahan lama jika sumber daya alam yang menopang mata pencaharian dan ekosistem dihancurkan.

    Oleh karena itu, mari menjadi insan yang ramah bagi sesama dan lingkungan untuk terus menjaga keberlangsungan kehidupan dan perdamaian.

    Salam,
    ARM HA IPB
    Bermartabat Menebar Manfaat

    ARMHAIPB

    SelamatkanLingkungan

    BermartabatMenebarManfaat

    November 9, 2020 0 comments
    0 FacebookTwitterPinterestEmail
    Bencana Banjir

    ARM HA-IPB salurkan bantuan untuk korban banjir bandang Garut

    by administratorarmhaipb November 9, 2020
    written by administratorarmhaipb

    Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) menyalurkan bantuan untuk korban bencana banjir bandang di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Misi kemanusiaan bertajuk Solidaritas Aksi Untuk Korban Banjir dan Longsor Garut (SABOGA) ini mendistribusikan 200 paket perlengkapan sekolah (tas dan buku) bagi siswa-siswi sekolah terdampak banjir, 100 lembar selimut, serta 300 eksemplar Al Quran.

    Dalam misi SABOGA ini, ARM HA-IPB bekerjasama dengan Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Alumni IPB Kabupaten Garut, Jawa Barat.

    Menurut Ketua Tim SABOGA ARM, Ali Fathoni, bantuan tersebut diberikan langsung kepada Kepala Desa Mandalakasih, Kecamatan Pamengpeuk, Kabupaten Garut yang merupakan salah satu lokasi terparah dilanda banjir bandang, 12 Oktober 2020 lalu.

    “Setidaknya ada empat titik lokasi yang akan kita tuju yakni Dusun Leuwisimar, Paas, Pamalayan dan Bojong,” kata Ali Fathoni.

    Khusus untuk bantuan alat sekolah, ARM menyerahkan bantuan tersebut kepada Kepala Sekolah Dasar Paas 5 di Dusun Paas, sedangkan selimut difokuskan untuk masyarakat Dusun Leuwisimar.

    Bantuan ini melengkapi bantuan awal ARM HA-IPB sebelumnya yang telah diserahkan saat masa tanggap darurat bencana tanggal 14 dan 15 Oktober 2020 silam berupa 40 boks mi instan ke Dusun Leuwisimar dan 18 jerigen desinfektan (total 90 liter) kepada masyarakat Desa Mandalakasih.

    Menurut penuturan warga Mandalakasih, dari total 570 keluargayang terkena dampak banjir di desa tersebut, Dusun Lewisimar merupakan lokasi yang warganya terdampak paling banyak yaitu 270 keluarga, yang sebagian besar tinggal di lahan desa.

    Seperti diketahui, 12 Oktober 2020 lalu, hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Garut mengakibatkan tiga sungai yaitu Sungai Cipalebuh, Sungai Cikaso, dan Sungai Cibera, meluap. Banjir melanda tiga kecamatan yakni Pamempeuk, Cibalong, dan Cikelet.

    Tercatat 1.000 lebih warga terpaksa mengungsi. Dampak lainnya, sekitar 50-70 hektare (ha) pertanaman padi di Kecamatan Pamengpeuk rusak parah (puso). Kondisi lahan pertanian cukup memprihatinkan karena tertutupi lumpur dan bebatuan.

    Berdasarkan Informasi Kepala Dinas Pertanian, Kabupaten Garut Benny Yoga, mayoritas lahan pertanian sawah adalah tadah hujan dan sistem irigasinya sederhana. Warga berharap ada program bantuan bagi petani yang sawahnya rusak, seperti pemulihan lahan sehingga lahan dapat ditanami kembali.

    Harapan lainya adalah program pedampingan masyarakat sehingga merekatidak tergantung terhadap bantuan dari pemerintah dan donatur. Pewarta : ARM HA-IPB/pewarta Antara
    Uploader : Naryo
    COPYRIGHT © ANTARA

    November 9, 2020 0 comments
    0 FacebookTwitterPinterestEmail
    BBA

    ARM HA IPB selenggarakan Bincang-Bincang ARM HA-IPB 14 November 2020

    by administratorarmhaipb November 9, 2020
    written by administratorarmhaipb

    BINCANG-BINCANG ARM HA IPB (BBA) VOL.2

    Pandemi Covid-19 di Tanah Air telah memicu berbagai perubahan di lingkungan sosial. Perlahan tapi pasti, kita harus mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru demi tetap terhindar dari penularan virus tersebut.

    Bincang-Bincang ARM HA-IPB (BBA) hadir kembali sebagai forum berbagi pengetahuan dan pengalaman agar kita mampu beradaptasi dengan baik sehingga tetap aktif, produktif, dan terus berinisiatif menebar manfaat di era pandemi.

    BBA akan semakin menarik dengan hadirnya tiga narasumber dari latar belakang yang berbeda :

    1. Prof. drh. Wiku Adisasmito, MSc, PhD
      (Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19; Alumni FKH IPB angkatan 20)
    2. Prof. Yudi Pawitan
      (Ahli Epidemiology & Biostatistic: Karolinska Institutet, Swedia ; Alumni STK IPB Angkatan 15)
    3. Yuli Arinta Dewi, S.P., M.Si
      (Dosen, Praktisi Psikososial; Alumni AGB IPB Angkatan 37)

    Moderator: Jamil Azzaini (CEO Kubik Leadership; Anggota Dewan Pembina ARM HA-IPB)

    Selain itu, akan ada sesi berbagi pengalaman dari:

    1. Prof. Joko Santoso
      (Survivor covid 19)
    2. Linda Ambadar
      (Diaspora Alumni IPB Auckland – Selandia Baru)
    3. Dian Utami Soekanto
      (Diaspora Alumni IPB
      Abu Dhabi – UAE)

    Dan Special Sharing :
    Prof. Juhaeri Muchtar
    (University of North Carolina, Chapel Hill – USA)

    Acara ini akan dilaksanakan pada:

    📅Sabtu, 14 November 2020
    ⏰Waktu : 09.00-11.00 WIB
    📱Aplikasi Zoom

    Link Pendaftaran:
    https://www.ipb.link/formbba

    Daftarkan dirimu sekarang juga! Akan ada doorprize menarik dari berbagai sponsor dan mitra ARM HA-IPB.

    Narahubung:
    📞08129720022 (Ahmad Musbakri)

    November 9, 2020 0 comments
    0 FacebookTwitterPinterestEmail
    Covid-19

    ARM HA-IPB Bagikan 350 Paket Lebaran untuk Masyarakat Kecil

    by administratorarmhaipb May 16, 2020
    written by administratorarmhaipb

    BOGOR, Sabtu 16 Mei 2020— Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (ARM HA-IPB) membagikan 350 paket sembako dan bantuan langsung tunai (BLT), kali ini kepada masyarakat di wilayah Bogor Timur, Bogor Utara, dan sekitarnya, Sabtu (16/5). Ketua HA-IPB, Fathan Kamil, mewakili ARM, menyerahkan bantuan itu secara resmi kepada Camat Bogor Utara dan Camat Bogor Timur, disaksikan langsung oleh Wakil Walikota Bogor, Dedi A. Rachiem.

    Bantuan ini diserahkan ARM dalam rangka menyambut Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah, sekaligus meringankan beban, khususnya mereka yang terkena dampak ekonomi secara langsung akibat wabah Covid-19. Dari donasi alumni, terkumpul 250 bingkisan sembako senilai Rp 150 ribu per paket. ARM juga menyalurkan bantuan dari mitranya, Perum BULOG, yang menitipkan 100 bingkisan sembako plus bantuan tunai, juga dengan total nilai Rp 150 ribu per paket. Paket sembako ini terdiri atas beras, terigu, gula pasir, minyak goreng, mie telor, kecap, sirup, dan teh. Selain itu, ARM membagikan lebih dari 580 masker kain sumbangan para alumni kepada warga.

    “Kelompok penerima donasi kali ini adalah masyarakat prasejahtera “Sekebun” Binaan HA-IPB DPC Kota Bogor di kawasan Tanah Baru, guru honorer vokasi, guru mengaji di kawasan Masjid Al-Ghifari, Masjid Alumni IPB Baranangsiang, Bukit Cimanggu City, Yasmin, serta guru honorer dan warga prasejahtera lainnya wilayah-wilayah tersebut, dengan total jumlah penerima manfaat sebanyak 350 orang,” ujar Ketua Umum HA-IPB, Fathan Kamil.

    Fathan menegaskan, peran serta ARM dan Alumni IPB bukan hanya membantu masyarakat saat terjadi pandemi Covid-19. Pasca wabah Covid 19, ARM dan HA-IPB bertekad meningkatkan aksinya, terutama dalam bidang ketahanan pangan, rantai suplai produk pertanian, dan pertanian perkotaan (urban farming). “Konsepnya nanti berupa pendampingan masyarakat binaan di tiap keluarga, sumbangan pemikiran, serta aksi nyata dengan berperan sebagai penghubung antara petani, UMKM dan pengguna akhir,” jelas Fathan.

    Menurut Wakil Walikota Bogor, Dedie A. Rachiem, di wilayah Kota Bogor, terdapat 152.000 dari 320.000 kepala keluarga yang harus dibantu, sementara, anggaran pemerintah terbatas. “Karena itu kami merasa sangat terbantu dengan donasi seperti ini,” ujarnya saat menyaksikan serah-terima bantuan ARM.

    Hingga medio Mei 2020 ini, ARM sebagai badan otonom bidang kemanusiaan HA IPB telah menuntaskan 5 (lima) operasi bantuan kemanusiaan dalam membantu masyarakat dan mahasiswa yang terkena dampak ekonomi wabah virus corona ini. Total bantuan yang telah ARM salurkan berupa 6,75 ton beras, 300 BLT, 350 paket sembako, paket disinfektan dan hand sanitizer, serta perlengkapan alat perlindungan diri (APD), dengan jangkauan penerima bantuan berjumlah 1.150 orang plus enam Puskesmas. **

    Info lebih lanjut silakan hubungi:

    AKSI RELAWAN MANDIRI HIMPUNAN ALUMNI IPB (ARM HA-IPB)
    Agus Rusli, Sekretaris Jenderal
    Telp: +62 812 108 4366

    May 16, 2020 0 comments
    0 FacebookTwitterPinterestEmail
    Covid-19

    SERAHKAN BANTUAN TAHAP KEDUA, ARM HA-IPB SALURKAN 1,5 TON BERAS DAN BANTUAN TUNAI

    by administratorarmhaipb April 10, 2020
    written by administratorarmhaipb

    SERAHKAN BANTUAN TAHAP KEDUA, ARM HA-IPB SALURKAN 1,5 TON BERAS DAN BANTUAN TUNAI

    BOGOR, JUMAT, 10 APRIL 2020— Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) bersama DPP Himpunan Alumni IPB menyerahkan bantuan tahap kedua kepada warga dan mahasiswa di wilayah Kampus IPB Darmaga, Bogor, yang mengalami dampak ekonomi akibat wabah Covid-19. Bantuan tersebut berupa 1,5 ton beras kepada 150 pedagang kecil, pengemudi ojek (baik daring maupun pangkalan), dan para pegawai harian lepas (PLH) di lingkungan IPB. ARM juga memberikan bantuan langsung tunai (BLT) masing-masing Rp 250.000 untuk 150 mahasiswa yang masih bertahan tinggal di Bogor.

    Bantuan tahap kedua tersebut diserahkan secara resmi kepada wakil masyarakat dan mahasiswa langsung oleh Rektor IPB University, Prof. Dr. Arief Satria, SP., M.Si., didampingi Ketua Umum HA, IPB, Ir. Fathan Kamil, di halaman Gedung Rektorat Kampus IPB Dramaga, Jumat (10/4).

    Penyerahan ini menjadikan bantuan beras yang telah ARM salurkan hingga kini berjumlah 2,5 ton, sedangkan BLT yang telah dan akan disalurkan kepada mahasiwa bernilai total Rp 62,5 juta, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 500 orang.

    Rektor IPB amat mengapresiasi aksi kepedulian HA-IPB dan ARM terhadap almamater dan masyarakat di sekitar kampus.

    “Apa yang HA-IPB dan ARM lakukan merupakan aksi konkret dalam situasi dan kondisi darurat seperti saat ini (wabah virus Corona). Masyarakat membutuhkan aksi nyata, yakni berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. “Kita hidup, hakikatnya harus bermanfaat untuk orang lain,” lanjut Rektor IPB.

    Wabah virus corona (Covid-19) telah berimbas cukup besar dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya dari sisi kesehatan melainkan sisi ekonomi. Karena itu Arif Satria kembali mengapresiasi ARM sebagai badan otonom HA-IPB yang selalu peduli kepada masyarakat. Penghargaan juga ia sampaikan kepada para pimpinan IPB yang memfasilitasi kegiatan ini, termasuk seluruh donatur dan masyarakat penerima.

    “Saya harapkan ini bukan yang kedua dan yang terakhir, akan ada gelombang bantuan lainnya,” harap Arif.

    Sementara itu, Ketua HA-IPB, Fathan Kamil, menghimbau kepada segenap alumni, mahasiwa, dan komponen IPB lainnya untuk menjaga diri, keluarga, dan lingkungan agar ketahanan dalam bidang kesehatan dan ekonomi terus terpelihara.

    “HA-IPB, ARM, dan segenap alumni berkepentingan menjaga kesinambungan kehidupan almamater kampus dan lingkungannya melalui kontribusi aktif membantu mahasiswa dan masyarakat sekitarnya. Apalagi kampus merupakan tempat lahirnya para pemimpin masa depan,”tegas Fathan.

    Dalam penyalurannya, ARM memastikan protokol keamanan dan keselamatan warga tetap terjaga dengan menghindari kerumunan dan pengumpulan massa. Bantuan tunai kepada mahasiswa disalurkan melalui rekening masing-masing setelah datanya dicek-silang dengan IPB Crisis Center. Demikian pula penyaluran beras akan diatur sedemikian rupa, sehingga warga yang terdata dapat mengambilnya dengan leluasa tanpa melalui antrean.

    **

    Info lebih lanjut silakan hubungi:
    AKSI RELAWAN MANDIRI HIMPUNAN ALUMNI IPB (ARM HA-IPB)
    Agus Rusli, Sekretaris Jenderal
    Telp: +62 812 108 4366

    April 10, 2020 0 comments
    0 FacebookTwitterPinterestEmail
    Covid-19

    Alumni IPB Sumsel peduli Covid-19

    by administratorarmhaipb April 6, 2020
    written by administratorarmhaipb

    ALUMNI IPB SUMSEL PEDULI COVID-19

    Alumni Institit Pertanian Bogor (IPB) Sumatera Selatan melalui DPD HA IPB dan DPD ARM IPB PEDULI para usaha mikro kecil, dan masyarakat kurang mampu yang terkena dampak ekonomi pandemi COVID-19. Penyaluran hasil donasi alumni dalam bentuk paket sembako (beras, minyak, susu, gula, terigu, mie wwgoreng) tahap I berjumlah 200 paket yang diserahkan kepada pedagang kecil informal, Ojol, tukang sayur keliling, fakir miskin, dan panti asuhan. Untuk tahap II dan tahap- tahap berikutnya diharapkan dapat segera disalurkan kepada mereka yang berhak. .

    Kepedulian kemanusiaan dampak Covid-19 ini merupakan hasil kerja bareng DPD Himpunsn Alumni IPB Sumsel dan DPD Aksi Relawan Mandiri (ARM) IPB Sumsel dan segenap anggota alumni IPB di Sumatera Selatan. Penyaluran paket sembako dilakukan secara perdana oleh Ketua Umum DPD HA IPB Sumdel, Dr. Ir. H Abdul Nadjib MM didampingi Ketua DPD ARM IPB Sumsel, Ir H Ahmad Surkati dan pengurus HA IPB lainnya kepada perwakilan pengusaha mikro kecil, Ojol, fakir miskin, dan tukang sayur keliling.

    Kegiatan kepedulian Covid-19 ini membuktikan bahwa alumni IPB Sumsel senantiasa berupaya untuk BERMANFAAT bagi masyarakat, daerah, anggota, dan institusi. Alumni IPB Sumsel siap bersinergi dan mendukung program pemerintah provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Pusat dalam menanggulangi pandemi Covid-19.

    Semoga kepedulian Alumni IPB SUMSEL ini dapat sedikit meringankan kebutuhan ekonomi keluarga mereka, ditengah ancaman virus covid-19. Yang masih terus berlangsung disekitar kita.
    Kami pun mendo’akan semoga kita bersama dapat mengatasi dan melawan virus covid -19 ini, dan segera hilang dari bumi Indonesia. Aamiin. YRA. Bersatu melawan Covid-19 (ans).

    April 6, 2020 0 comments
    0 FacebookTwitterPinterestEmail
    Newer Posts
    Older Posts

    Recent Posts

    • [SELAMAT IDUL FITRI 1447 H]
    • AIR MENGALIR SAMPAI NAGARI ANDURIANG
    • ARM HA-IPB RAMPUNGKAN SUMUR BOR DAN INSTALASI AIR BERSIH UNTUK 180 PENYINTAS DI BALAH AIA, PADANG PARIAMAN
    • ARM HA-IPB SALURKAN 320 PAKET BINGKISAN RAMADHAN UNTUK PENYINTAS BANJIR BANDANG DI JORONG LABUAH, KABUPATEN AGAM
    • DI SUMBAR, ARM HA-IPB MASIH TERUS BERBAGI

    Recent Comments

    No comments to show.
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • Linkedin
    • Youtube

    @2019 - All Right Reserved. Designed and Developed by PenciDesign

    ARM HA IPB
    • Beranda
    • Tentang Kami
    • Program
    • Publikasi & Rilis
    • Hubungi Kami