Armhaipb.id, AcehTamiang–Memasuki Besitang, Kabupaten Langkat, mulai terlihat posko-posko bantuan. Sebagian wilayah di Sumatera Utara juga terdampak banjir. Masuk ke perbatasan Aceh menuju Kabupaten Aceh Tamiang, suasana mulai menegangkan. Kiri-kanan jalan terlihat bekas banjir. Lumpur bertumpuk-tumpuk. Rumah-rumah warga temaram, sebagian besar gelap gulita. Mungkin listrik sudah menyala, tetapi penghuninya memilih mengungsi ke tempat lain. Entahlah.
Di pinggiran Kota Kuala Simpang, ibukota Kabupaten Aceh Tamiang, kami tertegun. Waktu menunjukkan hampir pukul 6 pagi. Suasana masih redup temaram. Namun, hal itu tak dapat menyembunyikan gambaran dampak banjir yang terjadi. Saya pribadi, terus terang langsung terkenang pengalaman saat memasuki Kota Banda Aceh, akhir Desember 2004 pascagempa dan tsunami yang melanda daerah tersebut.
Sulit untuk mengatakan bahwa pemandangan yang kami lihat tidaklah mencekam. Air menggenang, sampah bertumpuk, debris dan kepingan kayu dan bahan bangunan lainnya saling tumpang tindih hampir di semua sudut kota. Beberapa kendaraan teronggok tak bertuan di tepi jalan.
Sepi. Ya, ini memang masih pagi. Namun, ini terasa bukan sebuah kota yang sedang bergegas menyambut pagi. Saya hanya refleks mendeskripsikannya dalam kosa kata Bahasa Inggris: glooming.
Kami sampai di Pos Bantuan kawan-kawan WMI (Wahana Muda Indonesia). Saling berpelukan, saling menguatkan. Ya, dengan tim ini, kami telah bertemu dan bahu-membahu di hampir setiap giat tanggap darurat yang ARM HA-IPB jalankan, termasuk banjir Jabodetabek 2020, Gempa Cianjur 2022, Banjir dan Longsor Sukabumi 2024, dan sekarang, Banjir Sumatra di penghujung 2025.
Pukul 8 lewat, kami bergegas bergerak ke lokasi target: Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak. Dan sepanjang jalan yang menghabiskan waktu 1,5 jam tersebut, kami menyaksikan pemandangan serupa ketika kami memasuki Kuala Simpang. Hanya levelnya kini meningkat, 2-3 kali lipat. Astaghfirullah.
Namun, bukankah justru itu ujiannya? Dalam setiap pelatihan sukarelawan yang kami fasilitasi, ARM HA-IPB selalu menekankan bahwa mental menjadi salah satu elemen persiapan yang utama. “Anda boleh gentar, Anda boleh gelisah, tetapi Anda tak boleh kehilangan fokus.”
Ketua Umum WMI, Bang Handriansyah, yang menemani kami, adalah sosok yang ceria, ramah, sekaligus tegas dan tangguh. Namun, ia paham tatapan saya yang sedikit resah. “Saat pertama kali masuk ke Lubuk Sidup, saya tak bisa menahan diri saya sendiri. Saya menangis menyaksikan apa yang terjadi di depan mata saya,” bisiknya.
Pada akhirnya, kita hanyalah manusia biasa. Lemah dan butuh penguatan. Dan itulah yang ARM HA-IPB lakukan hari itu. Menguatkan dan menyemangati setiap warga yang kami temui. Berangkulan, menepuk pundak, berjabat erat. Menyapa kaum ibu yang tetap tegar merapikan barang logistik di pos penampungan.
Semuanya Insya Allah akan baik-baik saja. Kita tetap bersama mereka, saudara-saudara kita.
ARM HA-IPB
Bermartabat Menebar Manfaat