“No water, no life. No blue, no green.” – Sylvia Earle (American marine biologist)

Apa jadinya bila sumber kehidupan direnggut dari kita? Jawabannya adalah: bencana. Dan bagaimana pula jika dalam situasi bencana, air sebagai sumber kehidupan hilang dari lingkungan warga?

Jawabannya adalah: bencana di atas bencana.

Itulah yang dialami ratusan –bahkan mungkin ribuan—warga penyintas di kawasan terdampak gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat. Gempa bumi skala M5,6 pada 21 November 2022 silam ternyata telah mengakibatkan sumur-sumur sumber air warga mengering.

Padahal, hidup di tenda-tenda pengungsian cukup berat. Bukan saja soal ketersediaan pangan, kesehatan diri, dan kenyamanan. Kebutuhan air bersih untuk minum dan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) juga amat kritikal. Memang ada suplai air bersih disediakan berkala seperti dari PDAM dan PMI, tetapi itu belum mencukupi kebutuhan warga khususnya yang bertahan tinggal di pengungsian.

Warga di sebuah lokasi di Sarampad bahkan harus berjalan sejauh 200 meter untuk memperoleh air bersih yang bisa diminum, ditambah harus mengantri dengan warga lainnya yang berjumlah 144 KK. Sementara untuk kebutuhan lainnya seperti mandi, cuci baju, piring dan lainnya, mereka mengandalkan air sawah yang keruh dan tidak bisa diminum.

Beberapa kali permintaan air bersih dari warga diterima Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB). Kami memerlukan asesmen dan diskusi beberapa kali untuk mengecek lokasi serta ketersediaan tim untu meresponnya. Juga, tentu, kemampuan kami mengeksekusinya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Tim PP Darul Ikhlas pimpinan Irvan Ramli (alumni Kehutanan IPB Angkatan 22), yang merupakan mitra kami dalam pembangunan musola Al Mustopha di Rancagoong, Kecamatan Cilaku, ternyata tengah mengases hal serupa. Walhasil, kedua belah pihak setuju soal urgensi sumber air bor baru di beberapa lokasi harus ditindaklanjuti bersama.

Ada banyak permintaan sumur bor air bersih, tetapi saat ini kami fokus merespon dua titik, yakni di Kampung Jamaras RT 02 RW 05, Desa Sarampad, dan satu lagi di Kampung Padaruum RT 001 RW 003, Desa Benjot Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Sebelum melakukan pengeboran, tim memastikan agar lokasi titik bor mendapat persetujuan dari warga pemilik tanah. Alhamdulillah keduanya mendapat persetujuan penuh hitam diatas putih. Di akhir Januari lalu, pengeboran pertama dilakukan dengan target kedalaman 40 meter. Total biaya pengeboran sekaligus instalasi air bersih (paralon, mesin pompa submersible, dan lain-lain) mencapai Rp 25 juta per unit.

Waktu pengerjaan bisa mencapai maksimal 2 pekan dengan perkiraan kedalaman bor 40 meter. Hingga akhir pekan ini, tim pengebor di Sarampad telah mencapai kedalaman 29 meter. Di Padaruum, pengeboran baru sampai di kedalaman 13 meter.

ARM HA-IPB berharap, dengan tersedianya sumur bor dan air bersih, warga dapat mengaksesnya dengan leluasa dan mengatasi masalah-masalah kebutuhan air selama ini.

Apakah sahabat alumni berminat membantu dan terlibat dalam penyediaan sumur bor dan air bersih buat warga di Cianjur? Semakin banyak titik air bersih yang kita buat, semakin banyak masalah air bersih dapat teratasi.

Semakin dalam mesin bor menggali menuju sumber air bersih, semakin dekat harapan hidup kembali normal dapat kita janjikan kepada mereka, saudara-saudara kita di Cianjur.

Silakan transfer bantuan Sahabat untuk program air bersih ini ke:

BSI No. Rek. 773 778 7798
a.n. Aksi Relawan Mandiri HAIPB

Narahubung:
Ir. Agus Rusli, M.M,
Sekretaris Jenderal ARM HA-IPB
No. Telp. 0812 1084 366

You may also like

Leave a Comment