ARM HA-IPB Ikuti Pelatihan Psychological First Aid

2 minutes, 21 seconds Read

Jakarta, Selasa 15 November 2022— Dua relawan Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) mengikuti Pelatihan Psychological First Aid atau PFA (Pertolongan Pertama Psikologis) yang diselenggarakan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bekerja sama dengan Psikologi UI, Selasa (15/11). Acara dibuka dengan sambutan oleh H. Supriadi Karsim selaku perwakilan Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI dan dibuka oleh Akmil Faisal, Wakil Ketua MDMC.

Pelatihan yang diikuti sekitar 50 orang peserta dari enam organisasi tersebut dimulai dengan pembicara kunci Salman Anshori dari BPBD DKI serta Maya Sita, Psikolog dari UI dan General Manager Human Intiative. Salman Anshori memaparkan materi terkait bencana serta pengalamannya puluhan tahun dalam menangani berbagai bencana, termasuk gempa Palu 2018 silam.

Ia menekankan pentingnya bantuan pertolongan pertama psikologis pada penyintas. Salman Anshori juga berinisiatif membuat tim khusus PFA di DKI dengan merekrut tenaga berbagai latar belakang pendidikan dan multi talenta, dari personel dengan ketrampilan musik dan menyanyi, memijat, bekam, hingga keterampilan rohani/spiritual. Tak terkecuali juga melibatkan para penyandang disabilitas. Semua demi memulihkan mental penyintas di lapangan.

Di bawah BPBD DKI, sebuah kolaborasi tim kemanusiaan PFA dibentuk dengan nama Layanan Dukungan Psikososial atau LDP DKI yang didukung oleh BPBD DKI, Kemensos, Kemenkes, dan BAZNAZ. Kini LDP telah genap berusia 2 tahun. Anggota timnya dilatih secara rutin dan telah membantu banyak penyintas di seluruh wilayah Nusantara. Saat ini LDP DKI, dengan Persetujuan Gubernur DKI, sudah menyetujui pengadaan bus khusus PFA, serta telah memiliki satu unit bus layanan khusus mobile dalam melayani penyintas di berbagai lokasi. Bus tersebut dilengkapi dengan toilet serta logistik berupa tenda dan perlengkapan yang diperlukan dalam Layanan Dukungan Psikososial.

Psikolog Maya Sita memaparkan teori serta praktik pelaksanaan PFA secara sederhana, yang membantu peserta mudah mengingat dan melaksanakan tugas. Para petugas PFA tidak dimaksudkan untuk mengganti peran tenaga ahli psikolog di lapangan melainkan membantu memulihkan penyintas di tahap awal dalam kondisi darurat. Untuk kondisi-kondisi tertentu, penyintas yang memerlukan pendampingan aktif psikologis wajib dirujuk kepada psikolog atau mengontak psikolog ahli.

Para peserta belajar mengenai 6 Pilar PFA yakni Melihat, Mendengar, Memberi Rasa Nyaman, Menghubungkan, Memberi Rasa Aman, dan Memberi Harapan. Asesmen penyintas dengan melihat skala keparahan dampak psikologi penyintas sebelum berinteraksi juga diajarkan, selain soal memilah dan memetakan tingkat keparahan dampak psikologi berdasarkan usia. Dalam praktiknya, para calon petugas PFA perlu melakukan persiapan sebelum turun ke lapangan, terkait kontak-kontak penting di luar PFA.

Sebagai petugas PFA, seseorang petugas kemanusiaan harus mampu berempati mendengarkan permasalahan penyintas, yang merupakan bagian tugas terpenting. Nasihat yang diberikan petugas PFA juga diharapkan tidak bersifat menggurui.

“Pelatihan ini amat penting bagi relawan ARM HA-IPB sebagai bekal awal dalam membantu penyintas untuk membantu menstabilkan emosi penyintas,” kata Muhammad Shalahuddin Yusuf, relawan dan pengurus ARM bidang Penanggulangan Bencana. Ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti pelatihan psikologi.

“Saya berharap dapat berbagi ilmu ini baik di internal ARM maupun eksternal.” ujar Yusuf.

Informasi lebih lanjut hubungi:
 
Agus Rusli
Sekjen ARM HA-IPB
No. Telp. 0812 1084366

ARM HA-IPB
Bermartabat Menebar Manfaat

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *